Minggu, 29 November 2009

berbicara ternyata tidak mengerikan

Dua kali sudah saya bersama tim mendampingi teman2 calon pengantin mengikuti Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga yang diadakan oleh Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran.
Saya bertanggungjawab utk mengisi Sesi Psikologi Keluarga.

Salah satu aktivitas dalam sesi tersebut adalah "Pacaran Intensif". Saya mengibaratkannya sebagai menge-charge ponsel pertama kali sebelum dipakai. Butuh waktu agak panjang. Mungkin juga diwarnai perasaan tidak menyenangkan. Tetapi, supaya bisa tahan lama, ponsel harus mengalaminya. Begitu pula pernikahan, harus diawali dengan membuat kesepakatan2 yg dirasa perlu.

Sayangnya...ada pasangan yang ga sempat, ga mau, menganggap ga perlu melakukan ini. Sebenernya, saya pikir, ga ada list pertanyaan baku utk ini. Semua tergantung kondisi saja. Ada teman yang merasa tdk perlu detil berdiskusi, ya gapapa.... Ada teman yang setiap malam mendisusikan satu dari ratusan pertanyaan yg ada di buku, dan baru akan menikah jika semua sudah dijawab, ya silakan saja....

Nah, di sesi itu...ada pertanyaan2 standar yg saya susun utk disepakati oleh peserta secara berpasangan. Pertanyaan2 yg diberikan sebenarnya sangat mendasar. Seperti tempat tinggal, pekerjaan, anak, keuangan. Itupun pancingan saja. Karena harapannya, setelah itu mereka bisa menemukan pertanyaan2 lain yg dianggap pas utk mereka. Biasanya, "pacaran" berlangsung seru. Ada yg sambil ketawa2, ada yg pake ngotot juga...sampai si perempuan berkaca2... :)

Kemarin, ada pasangan yang sudah selesai menjawab dalam waktu sepuluh menit. Padahal waktu yg disediakan 30 menit. Lalu mereka diam, ga ngapa2in...ehehe... Saya memancing mereka utk berdiskusi lebih lanjut. Karena sesi sebelumnya adalah Hukum Gereja Katolik mengenai Pernikahan yang intinya adalah monogami dan tak terceraikan, saya mengusulkan pada mereka utk berdiskusi ttg dua hal: 1. Bagaimana kalau di tengah perjalanan, salah satu pasangan jatuh cinta pada orang lain. 2. Mengingat bahwa memiliki keturunan bukan satu2nya tujuan pernikahan Katolik, apa yg akan dilakukan jika sudah -katakan-5 atau 10 tahun menikah, belum dianugerahi anak?

Duh..duh...pertanyaan saya kok ngeri ya... Parahnya, saya sendiri merasa takut menjawabnya.

Malam harinya, saya berdiskusi dengan Oh. Dan....you know what...pertanyaan menyeramkan itu kami lalui dengan mulus dan mudah... Dia sangat simple, easy, dan ga mikir negatif. Semua dibawa enak dan menyenangkan. Salah satu jatuh cinta? Kejujuran dan pengampunan adalah kuncinya. Belum dianugerahi momongan? Tetap bersyukur, dan mencari kehendak Allah. Siapa tau kami dipanggil utk membagi kasih pd anak2 yg kurang beruntung. That's it!

Fiuh...saya menghela napas lega...ternyata pertanyaan2 itu tdk lagi menakutkan.

Dan fiuh yang kedua adalah...saya merasa bahwa ini adalah fondasi yang baik utk kami berdua. Mampu berbicara/berdiskusi/berkomunikasi dg baik dan positif. Jika suatu waktu nanti cinta yang menggebu-gebu itu redup nyalanya karena banyak hal, inilah kekuatan kami utk tetap berjalan berdampingan dan bekerjasama utk menyulut kembali api cinta itu.

0 komentar:

Posting Komentar